Deteksi Area Bekas Kebakaran Hutan dan Lahan Menggunakan Citra Landsat 8 Tahun 2018 – 2020 (Studi Kasus: Pulau Rupat, Bengkalis)

Open Access
Article Info
Submitted: 2021-12-06
Published: 2020-12-10
Section: Articles
Language: ID

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menjadi sebuah fenomena tahunan pada musim kemarau di Indonesia, salah satunya Pulau Rupat yang berada di Provinsi Riau. Lokasi Pulau Rupat yang dekat dengan ekuator dan lahan yang bersifat gambut menjadi salah satu penyebab mudah terjadinya karhutla. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan area bekas kebakaran hutan dan lahan di Pulau Rupat dari tahun 2018 hingga 2020 dengan memanfaatkan citra satelit Landsat 8 menggunakan metode semi otomatis. Pengolahan dengan metode semi otomatis dilakukan dengan cara interpretasi visual dan digital. Pengolahan data citra satelit Landsat 8 dilakukan secara visual dengan melakukan digitasi berdasarkan unsur interpretasi citra, sedangkan pengolahan data titik panas (hotspot) dilakukan secara digital dengan memanfaatkan fungsi point density untuk mendapatkan batasan area karhutla berdasarkan tingkat kerapatan hotspot. Hasil dari pengolahan kedua metode tersebut digunakan untuk mendeteksi area bekas karhutla yang lebih akurat. Hasil kajian menunjukkan luas area bekas karhutla tahun 2018, 2019, dan 2020 berturut-turut sebesar 178,06 ha; 3.528,98 ha; dan 2.117,47 ha. Hasil deteksi area bekas karhutla dianalisis berdasarkan fungsi kawasan hutan termasuk ke dalam HP (hutan produksi tetap), HPK (hutan produksi konversi), HPT (hutan produksi terbatas), dan APL (area penggunaan lain), sedangkan berdasarkan penutup lahan termasuk ke dalam jenis kawasan hutan, hutan rimba, perkebunan/kebun, dan semak belukar/alang-alang.

References

  1. Endrawati. (2016). Analisis Data Titik Panas ( Hotspot) dan Areal Kebakaran Hutan dan Lahan tahun 2016. https://rfmrc-sea.org/wp-content/uploads/2015/01/Analisis-Data-Titik-Panas-Hotspot-dan-Areal-Kebakran-Hutan-dan-Lahan-Tahun-2016.pdf
  2. ESRI. (2017). Fundamentals of pan sharpening. https://pro.arcgis.com/en/pro-app/latest/help/analysis/raster-functions/fundamentals-of-pan-sharpening-pro.htm
  3. Lapan. (2016). Informasi Titik Panas ( Hotspot ) Kebakaran Hutan / Lahan: Vol. ISBN 978-6. https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwim48Ke0_nOAhWHQo8KHfjdB7sQFggtMAI&url=http://pusfatja.lapan.go.id/files_uploads_ebook/publikasi/Panduan_hotspot_2016 versi draft 1_LAPAN.pdf&usg=AFQjCNHM3Ydg
  4. Lukiawan, R., Purwanto, E. H., & Ayundyahrini, M. (2019). Analisis Pentingnya Standar Koreksi Geometrik Citra Satelit Resolusi Menengah Dan Kebutuhan Manfaat Bagi Pengguna. Jurnal Standardisasi, 21(1), 45. https://doi.org/10.31153/js.v21i1.735
  5. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 1 (2016).
  6. Pusfatja LAPAN. (2015). Pedoman Pemanfaatan Data LANDSAT-8 untuk Deteksi Daerah Terbakar (Burned Area). September 2014, 21.
  7. Sutanto. (2013). Metode Penelitian Penginderaan Jauh. Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG).
  8. Tacconi, L. (2003). Fires in Indonesia: causes, costs and policy implications. Fires in Indonesia: Causes, Costs and Policy Implications, 38, 1–34. https://doi.org/10.17528/cifor/001552
  9. Vetrita, Y., & Haryani, N. S. (2012). Validasi Hotspot MODIS Indofire di Provinsi Riau. Jurnal Ilmiah Geomatika, 18(1), 17–28.
  10. Zubaidah, A., Sulma, S., Suwarsono, S., Vetrita, Y., Priyatna, M., & Ayu, K. (2017). Akurasi Luas Areal Kebakaran Dari Data Landsat-8 Oli Di Wilayah Kalimantan. Majalah Ilmiah Globe, 19(1), 21–32. https://doi.org/10.24895/mig.2017.19-1.442

  1. Annisa Baroroh  Departemen Teknik Geodesi-Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Indonesia, Indonesia
  2. Harintaka Harintaka  Departemen Teknik Geodesi-Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Indonesia, Indonesia